PENINGKATAN PEMBELAJARAN NAHWU SHOROF DENGAN METODE AL-MIFTAH LIL ULUM DI PONDOK PESANTREN PUTRA PUTRI AL-ANWAR

 

Ade Rosi Siti Zakiah

(1824002)

Ilmu Alqur’an dan Tafsir


 

Pada umumnya, penguasaan ilmu Nahwu dan Shorof bagi para santri merupakan suatu keniscayaan yang terus diupayakan oleh seluruh pondok pesantren yang mengkaji kitab kuning. Mempelajari atau membaca kitab kuning, bukanlah suatu hal yang mudah karena diperlukannya ketekukan dan pemahaman terhadap ilmu-ilmu seperti ilmu Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, dan lain sebagainya. Penguasaan terhadap ilmu Nahwu dan Shorof akan sangat membantu dalam menguasai berbagai ilmu agama khusunya dalam mempelajari Alqur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup.

Ilmu Nahwu merupakan salah satu cabang dari ilmu Bahasa Arab yang digunakan untuk mengetahui bagaimana kita merangkai kata-kata menjadi kalimat sempurna sesuai dengan kaidahnya baik dari segi susunan kata tersebut maupun perubahan akhir kalimatnya. Adapun Shorof merupakan ilmu yang berfungsi untuk mengetahui perubahan kata dari suatu bentuk ke bentuk lainnya atau lebih dikenal dengan istilah tashrif. Salah satu materi yang biasa digunakan pesantren di Indonesia adalah buku Amstilah Tashrifiyah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad Maksum bin Ali. Demikian juga di PP Al-Anwar yang menggunakan buku tersebut untuk pembelajaran para santri-santrinya.

Pondok Pesantren Putra Putri Al-Anwar merupakan lembaga yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Miftahus Sibyan. Pondok tersebut berlokasi di Jl. Masjid No. 08 Dusun Sengon, Desa Pringgodani, Kec. Bantur, Kabupaten Malang. Program utama bagi santri adalah penguasaan terhadap kitab-kitab klasikal (gundul) dan kitab kuning. Materi yang dipelajari seperti ilmu Fiqih, Aqidah, Akhlaq, dan ilmu lainnya. Untuk memahami berbagai ilmu tersebut, santri dibekali dengan pembelajaran ilmu Nahwu dan Shorof dengan menggunakan medel salaf (tradisional). Maka PP Al-Anwar mempunyai target agar santri dapat mempelajari kitab-kitab nahwu (Jurumiyah, Imrithi, serta Alfiyah) dan kitab-kitab Shorof (Al-Amsilah at-Tashrifiyah, Qawa’id al-I’lal, dan Kaelani).

Dalam pembelajaran materi Nahwu dan Shorof, para ulama berusaha menggunakan berbagai cara dalam proses penyampaiannya, semua itu bertujuan agar dapat difahami secara lebih mudah. Namun, jika materi Nahwu dan Shorof dipelajari secara tradisional, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan menurut beberapa kalangan, pembelajaran tersebut membutuhkan waktu antara 5 sampai 15 tahun agar dapat membaca kitab kuning dan memahaminya dengan baik. Maka dari itu, dengan kondisi yang terus berubah sesuai dengan perkembangan zaman, para ulama pun dituntut untuk dapat berinovasi secara cerdas dalam membuat metode pembelajaran. Harapannya, agar pembelajaran lebih efektif dan efisien serta tidak membutuhkan waktu yang lama. Sehingga selain mempelajari kitab kuning, para santri juga dapat mempelajari berbagai keilmuan lainnya. Karena santri juga harus mempunyai kompetensi dan keterampilan dalam berbagai bidang.

Salah satu inovasi yang pernah dipelajari oleh penulis dalam pembelajaran ilmu Nahwu dan Shorof adalah metode Al-Miftah Lil ‘Ulum. Metode tersebut sengaja dirancang oleh Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) agar dapat mempermudah dan mempercepat para santri dalam proses memahami dan mempraktekkan kaidah-kaidah bahasa Arab ketika membaca kitab kuning. Materi yang disajikan diambil dari berbagai kitab Nahwu dan Shorof yang ditulis secara praktis sehingga mudah untuk para pemula dalam memahaminya.

Memperhatikan realitas para santri PP Al-Anwar yang notabene merupakan santri pemula dan masih kesulitan dalam memahami ilmu Nahwu dan Shorof, penulis pun mencoba membagikan pengalamannya dengan memperkenalkan materi Al-Miftah Lil ‘Ulum. Kitab tersebut terdiri dari 4 jilid sebagai pedoman, 1 jilid berisi nadzam tashrif, dan 1 jilid khusus lagu-lagu. Proses pembelajaran materi Al-Miftah Lil ‘Ulum terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pendahuluan (persiapan, do’a, dan pembacaan nadzaman), kegiatan inti (memjelaskan materi dan sesi tanya jawab), dan kegiatan penutup.

Penulis mengajarkan ilmu Nahwu dan Shorof menggunakan materi Al-Miftah lil ‘Ulum kepada para santri PP Al-Anwar selama kurang lebih satu bulan. Para santri sangat antusias dan bersemangat ketika membacakan lagu-lagu/nadzaman dan fokus saat menerima materi yang disampaikan. Menurut salah satu santri putra, metode ini lebih mudah untuk diingat dan dihafalkan karena disertai lagu-lagu yang unik dan menyenangkan, dilengkapi nadzaman imrithy, dan hal yang paling menarik lainnya yaitu adanya materi-materi dari kitab yang tingkatannya lebih tinggi. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa metode Al-Miftah sangat mendukung para santri yang ingin memperdalam ilmu alat, baik dari cara penyajian materinya, cara menghafalkannya, memahaminya, dan lain sebagainya itu dianggap lebih praktis dan mudah untuk dipraktekkan.

Dari hasil pengamatan penulis selama mengajarkan ilmu Nahwu dan Shorof di PP Al-Anwar, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode kitab Al-Miftah Lil ‘Ulum mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjadi solusi dari realitas para santri pemula yang masih kesulitan dalam memahami ilmu Nahwu dan Shorof. Harapannya, PP Al-Anwar dapat meneruskan pembelajaran dengan metode ini sehingga efektif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan di pondok pesantren. Peningkatan pembelajaran tersebut juga bertujuan untuk menjaga dan menciptakan generasi yang berkualitas di bidang kitab kuning, sehingga tujuan pendidikan di pesantren dapat mencapai tingkat maksimal.

 

Komentar